Kita Bisa Promosikan Potensi Wisata Sendiri
Untuk menghilangkan rasa ragu-ragu ini, saya coba googling dan menemukan beberapa informasi menarik seputar SMS dukungan untuk pulau Komodo. Kontes ini sejak awal memang mengundang pro dan kontra, baik di tingkat pejabat negara maupun marketer di Indonesia. Beberapa fakta diantaranya:
1. Maladewa mundur sebagai salah satu peserta New karena nggak mau diperas oleh panitia. Setahu saya memang demikian. Organisasi yang kasih label New Seven Wonder meminta sejumlah uang kepada para nominator. Tujuannya untuk apa saya juga belum paham. Ini hal yang aneh. Mau kasih penghargaan kok malah minta uang. Justru biasanya yang dapat juara itu yang dikasih hadiah.
2. Mantan Menbudpar Jero Wacik pernah menyatakan kalau yayasan yang menjadi penyelenggara Kontes Nwew Seven Wonders tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Bahkan UNESCO pun tidak mendukung kompetisi New 7 Wonders. Nah, kalau organisasi sebesar PBB saja nggak mendukung kontes macam ini, lalu apa kita mau bunuh diri dengan membeli label palsu.
3. Indonesia pernah dicoret secara sepihak dari kompetisi New 7 Wonders karena tidak bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan kompetisi dengan biaya sekitar 400 miliar rupiah. What? 400 miliar? Dana segede itu apa nggak lebih bermanfaat kalau dipakai untuk kebutuhan pendidikan anak jalanan? Kontes produk kapitalisme macam ini justru berpeluang membuat negara kita jadi lebih miskin.
Makanya, saya merasa bersyukur karena belum sempat kirim SMS dukungan buat pulau Komodo untuk dijadikan lokasi Tujuh Keajaiban Dunia yang baru. Kalau mau jujur nih, tanpa diminta pun pulau itu sudah menjadi Keajaiban Dunia. Habitat asli komodo cuma ada disana, dan itulah daya tarik utama wisata pulau Komodo. Kita nggak perlu beli label dari orang luar untuk promosikan potensi wisata dalam negeri. Saya menghimbau jangan mau dibohongi organisasi nggak jelas macam penyelenggara itu.
Bagaimana dengan Anda, apakah masih mau kirim SMS dukungan untuk Pulau Komodo sebagai New Seven Wonder?

sumber : google