Ki Ageng Tembayat dulunya adalah seorang bupati yang bernama Ki Ageng Pandanaran. Beliau seorang bupati yang sakti, dipatuhi semua rakyat, Dikagumi oleh semua bawahannya, tapi sayang bupait tersebut sangat mementingkan dirinya sendiri, senang hidup bermewah mewahan. Pajak upeti rakyat dinaikkan, setor pajak harus tepat waktunyademi mengejar kemewahan dan kesenangannya.

Meskipun rakyat patuh kepadanya, tetapi beliau terkenal sebagai bupati yang kikir. Sang bupati tidak mengetahui kesulitan hidup yang diderita oleh rakyatnya.. beliau tidak tahu akan kemiskinan rakyatnya.

Pada suatu pagi datanglah seorang penjual rumput(ilalang) ke halaman kabupaten, seorang tua yang berbadan tegap dan kekar.  Meskipun Ki Ageng tahu seseorang dating menghampirinya, tetapi acuh tak acuh.

Dengan badan membungkuk bungkuk dan sopan penjual ilalang itu menawarkan ilalang tersebut,  lalu Ki Ageng berkata  asalkan murah ku beli rumputmu. Lalu penjual tersebut berkata soal harga terserah Gusti, lalu penjual itu disuruh menaruh rumputnya di belakang gedung kabupaten. Setelah ilalang tersebut ditaruh dekat kandang kuda, si penjual kembali ke halaman kabupaten. Lalu pak tua disuruh membuatkan atap kandang kuda.

Setelah selesai pak tua menghadap sang bupati yang telah duduk duduk di kursi pendapa, lalu sang bupati memberikan uang kepana pak tua itu, lalu pak tua itu berkata “Terima kasih Gusti, Hamba tidak butuh uang”,, lalu sang bupati marah,,, lalu pak tua itu berkata lagi “ Hamba tidak butuh uang, Hamba hanya minta ilalang hamba diganti dengan bunyi bedug di kabupaten semarang ini”  Lalu sang bupati marah, sebab uangnya tidak diterima , itu merupakan penghinaan bagi seorang bupati.

sang bupati berkata orang tua tak tahu diri, kau telah kutolong, uang ini besar nilainya, cukup buat makan kau dan anak binimu. Seharusnya kau terimakasih kepadaku. Lalu pak tua itu berkata :  hamba tidak butuh uang, hamba hanya minta ilalang hamba ditukar dengan bunyi bedug dikota semarang. Bagi hamba uang bukan apa apa, mudah mencarinya bila hamba mau, sekali cangkul hamba akan mamperoleh emas sebesar kepala kerbau.

Kau sombong ya, Gila,,bentak sang bupati sambil melanjutkan perkataannya Coba buktikan kata katamu,,, lalu pak tua itu meminta sebuah cangkul kepada sang bupati. Lalu pak tua menuju kearah halaman kabupaten, sambil disaksikan para abdi dan warga  sekitar kabupaten lalu pak tua mulai mengayunkan cangkulnya,,,, lalu suasana kabupaten mulai hening saat melihat kilauan cahaya emas dari hasil cangkulan pak tua tersebut, lalu sang bupati berlutut dihadapan pak tua sambil berkata,  maafkan tuan atas kelancanganku, Siapakah tuan sebenarnya,, lalu pak tua menjawab dengan perlahan orang menyebutku Sunan Kalijaga.

Dengan mendengar nama itu, sang bupati semakin takut, beliau tidak berani berdiri, bahkan lebih erat memegang beliau. Lalu sunan berkata “anakku, kembalilah kejalan yang benar, tetap aku minta bunyi bedug di Semarang ini, lalu lenyap dari pandangan dan hanya terdengar suara “ Anakku Pandanaran susullah aku di Gunung Jabalkat”.